Media Kapas Iqra

OPINI; Dimensi Sosiologis Gerakan Dakwah

Redaksi: kapasiqra.com | November 30, 2023

Oleh: M. Rusdi, M.Pd. (Dosen Pendidikan Sosiologi, Univ. Iqra Buru)

OPINI– Islam Indonesia seperti yang kita lihat saat ini, meskipun tampak banyak warna, akan tetapi dalam beribadahnya masih dalam satu kesatuan teologis yang sama. Ini memberikan cerminan tentang kuatnya substansi ajaran yang menjadi muatan utama gerakan dakwah. Cermin keterbukaan yang amat produktif memungkinkan islam diterima oleh masyarakat mana pun dengan segala corak sosiologis yang dianutnya.

Gerakan dakwah memang selalu meniscayakan kemampuan sosiologis para pelakunya, masyarakat yang selalu menjadi medan garapan dakwah selalu menampilkan sosok yang sarat dengan muatan lokal yang salah satu alat pembacanya adalah sosiologi. Dimensi sosiologis menjadi penting, terutama untuk membantu para pelaku dakwah melihat secara jernih dan objektif persoalan-persoalan sosial yang menjadi agenda utama dalam berdakwah.

Secara historis, sejak zaman Rasulullah dan para sahabatnya,gerakan dakwah yang dilakukannya selalu mempertimbangkan aspek budaya setempat, terutama untuk memperlicin jalan dakwah yang ditempuhnya. Dengan demikian, pada dasarnya dakwah akan selalu berhadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial budaya yang telah berkembang jauh sebelum kelahiran islam.

Oleh karenanya, dalam melaksanakan risalah dakwahnya Rasulullah tidak pernah memaksakan kehendak apa pun meskipun ada jaminan teologis yang memayungi gerakan dakwah yang ia lakukan. Maka, Rasulullah selalu membuka ruang dialog kebudayaan yang lebih terbuka agar terjadi proses yang adil dalam membangun tata nilai baru di tengah-tengah sistem kehidupan yang telah ada sebelumnya. Dalam konteks sosial seperti itu, dakwah bukanlah sosok pemberantas total tatanan kehidupan lama, tetapi ia sebagai wujud yang melakukan proses seleksi atas nilai-nilai kehidupan yang dipandang relevan dengan kehendak ajaran.

Teori Sosial Dakwah

Meningkatnya gairah studi dakwah di Indonesia, pada pusat-pusat studi islam, dari berbagai perspektif merupakan bagian penting dari perkembangan dakwah sebagai science yang tidak statis dari interaksi dengan ilmu-ilmu yang sudah berkembang sebelumnya.

Praktik dakwah dilakukan atas landasan-landasan tertentu, misalnya; kegelisahan melihat fenomena kontradiktif dalam masyarakat antara nilai agama yang dianut dengan praktik keseharian, keyakinan pada nilai agama dan semangat religius untuk disebarkan kepada orang lain, motifasi untuk memperoleh keuntungan pribadi (pengaruh, ekonomi, dan status sosial), publikasi islam dan spirit idealisme membumikan islam.

Dengan demikian, motivasi-motivasi dakwah tersebut apabila benar sesuai kenyataan. Maka kita tidak bisa mengelak bahwa dakwah merupakan respons kegelisahan para da’i terhadap fenomena yang terjadi dalam masyarakat, terutama pada fenomena-fenomena sosial yang dianggap kontradiktif dengan pilar-pilar ajaran islam, misalnya; pelanggaran etika dan moral,ktriminalitas, pengangguran, kemiskinan, kebododan dan korupsi yang bukan lagi menjadi hal yang baru di Indonesia.

Dengan adanya berbagai fenomena tersebut, maka seorang muslim tergerak hatinya untuk melakukan perbaikan-perbaikan (islah) dengan menggunakan nilai-nilai islam sebagai parameter kebaikan. Agen yang melakukan tindakan tersebut disebut da’i, sementara tindakan yang ia lakukan disebut sebagai dakwah, serta perilaku kontradiktifnya disebut sebagai sasaran dakwah atau masalah dakwah. Sehingga yang menjadi sasaran dakwah adalah perilaku masyarakat yang tidak selaras dengan spirit nilai-nilai islam. Dengan demikian, apabila perilaku menyimpang tersebut dibiarkan berkembang dan melembaga, hal ini dapat berubah menjadi budaya masyarakat dan terjadi proses “institusionalisasi kemungkaran”.

Meminjam beberapa teori sosial yang dibangun para sosiolog Barat, banyak upaya menelaah fenomena sosial itu dari perspektif objek sosial saja tanpa melibatkan etika dan norma bahkan ideologi yang dianut masyarakat tersebut. Emile Durkhaim misalnya, meneliti tentang bunuh diri (suicide) dari perspektif fenomena kejahatan, tanpa terlalu mengindahkan norma-norma yang dianut masyarakat dilingkungan tersebut. Telaah demikian, tentu saja tidak memuaskan karena sikap dan tindakan masyarakat tersebut sebagaimana senyatanya tidak bisa dilepaskan dari  socio-cultural setting yang melingkupinya. Demikian pula ketika misalnya, ingin menelah fenomena dakwah. Seseorang mengkaji atau mempraktikkan dakwah tidak luput dari pengaruh ruang dan waktu yang membatasinya, baik pada aspek materi, waktu, media, target dan metodenya.

 

Berita Terbaru

Video Terbaru

Banner tidak ditemukan.

Berita Lainnya

La Husni Buton Sebagai Akademisi, Optimis Maju Calon Wakil Bupati Buru, Ini Penyebabnya !!

La Husni Buton Sebagai Akademisi, Optimis Maju Calon Wakil Bupati Buru, Ini Penyebabnya !!

PILKADA BURU- Sebagai Akademis (Dosen FAI Univ. Iqra Buru), yang juga sekarang menjabat sebagai Sekretaris Partai PDI Perjuangan di tingkat

Uji Isi Otak Mahasiswa FAI di Sidang Skripsi

Uji Isi Otak Mahasiswa FAI di Sidang Skripsi

Penulis: Abd. Rasyid Rumata, S.Sos.I., M.Sos.I. (Dosen Prodi KPI, FAI Uniqnu) PENDIDIKAN- Puluhan mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Iqra Buru

BEM FE UNIQBU, Adakan Pelatihan Menjadi Konten Kreator

BEM FE UNIQBU, Adakan Pelatihan Menjadi Konten Kreator

BURU-Dalam rangka meningkatkan kreativitas yang berkualitas dalam menjadi konten kreator, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) mengadakan kegiatan pelatihan

Keterlibatan Generasi Z Dalam Pemilu 2024

Keterlibatan Generasi Z Dalam Pemilu 2024

Oleh: M. Rusdi, S.Pd.,M.Pd. (Dosen Pendidikan Sosiologi, Universitas Iqra Buru) OPINI- Tinggal beberapa hari lagi kita akan menyaksikan proses pesta

Kepala Desa Parbulu, Menyambut Kedatangan Peserta Mahasiswa KKN UNIQBU

Kepala Desa Parbulu, Menyambut Kedatangan Peserta Mahasiswa KKN UNIQBU

BURU- Mahasiswa Universitas Iqra Buru (UNIQBU) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Parbulu, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Sabtu (24/02/2024).

OPINI: Mensakralkan Pancasila Tanpa Batas Waktu

OPINI: Mensakralkan Pancasila Tanpa Batas Waktu

Penulis: Abd. Rasyid Rumata, Sos.I., M.Sos.I. (Dosen Prodi KPI, Univ. Iqra Buru) OPINI- Tumbuh dari masa kecil hingga berusia di

OPINI; Siapa yang Layak Menjadi Rektor UNIQBU 2024-2027

OPINI; Siapa yang Layak Menjadi Rektor UNIQBU 2024-2027

Oleh: A.R.Rumata, S.Sos.I.,M.Sos.I. (Dosen Komunikasi Penyiaran Islam, Univ. Iqra Buru) OPINI- Perjalanan Perguruan Tinggi Universitas Iqra Buru (UNIQBU) telah menuai

Pelepasan Pertukaran Mahasiswa Merdeka UNIQBU 2024

Pelepasan Pertukaran Mahasiswa Merdeka UNIQBU 2024

Kabar Buru- UNIQBU melepas 3 mahasiswa yang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdekan (PMM) yang dilaksanakan di ruang rapat kampus UNIQBU, yang

Kasatreskrim Berikan Materi Anti-Bullying di Kegiatan Pesantren Kilat: Langkah Nyata Cegah Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Kasatreskrim Berikan Materi Anti-Bullying di Kegiatan Pesantren Kilat: Langkah Nyata Cegah Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

PENDIDIKAN- Dalam upaya mencegah dan mengurangi kasus bullying, Kasatreskrim Buru, I Kadek Dwi Pramartha Putra, S.T.K., S.I.K., M.H. memberikan materi khusus

PKN: PN Tidak Bisa Putuskan Penundaan Pemilu

PKN: PN Tidak Bisa Putuskan Penundaan Pemilu

Terkait putusan PN Jakarta Pusat yang salah memutuskan penundaan Pemilu sampai Juli 2025. Sebab Pengadilan Negeri (PN) tidak memiliki kewenangan