Media Kapas Iqra

Apakah Sekolah itu Penting? (AI VS sekolah)

Redaksi: kapasiqra.com | October 27, 2024

Penulis: A. Rahman, S.Pd.

OPINI- Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting dalam perkembangan suatu Negara. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula.

Namun, di abad ini kita diperhadapkan pada perkembangan teknologi yang begitu cepat. Perubahan ini membawa dampak yang sangat besar dalam berbagai aspek, salah satunya pendidikan. Teknologi membuat satu terobosan baru yaitu kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang dirancang untuk meniru kemampuan intelektual manusia.

Di abad ini Artificial Intelligence (AI) dijadikan sebagai sumber informasi yang akurat yang praktis dalam membantu manusia dalam berbagai hal. Jika demikian, sekolah dan guru secara tidak langsung perannya akan tergantikan. Pertanyaan besarnya adalah “Apakah sekolah masih penting ?”
“Apakah sekolah itu penting ?” adalah suatu pertanyaan besar yang harus di selesaikan hari ini.

Keterbukaan informasi yang tidak terbatas membuat peran sekolah dan guru melemah. Bukan hanya itu, peristiwa negatif yang sering diberitakan mengenai sekolah akhir-akhir ini seperti membuka wajah pendidikan di Indonesia.

Kasus bulliying antar peserta didik, kekerasan, pelecehan seksual, video syur guru dan peserta didiknya, pemenjaraan guru dalam mendidik dengan tuduhan kekerasan, dan masih banyak lagi.

Hal ini, akan berpengaruh pada pandangan masyarakat akan pendidikan anaknya. Akan banyak suara yang mempertanyakan Apakah sekolah itu penting ?

Pertanyaan seperti itu penting untuk di jelaskan karena akan mempengaruhi mindset atau skeptisme masyarakat tentang pendidikan. Sekolah dan AI harusnya tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Peranan sekolah dalam mewadahi setiap pendidik yang memberikan pembelajaran pada peserta didik akan memberikan dampak yang sangat berbeda jika hanya belajar melalui AI.

Sekolah bukan hanya soal perkembangan pengetahuan namun sekolah adalah wadah yang lebih kompleks dalam pendidikan. Sekolah adalah tempat melakukan interaksi secara langsung yang dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dalam komunikasi dan bersosialisasi di masyarakat.

Sekolah juga sebagai wadah mengembangkan kreatifitas dan kemampuan kritis sesuai dengan teori kontruktivisme Vygotsky.

Menurut Vygotsky, pembelajaran kolaboratif dan interaksi sosial sangat penting untuk membangun pemikiran kritis, yang bisa terhambat jika teknologi mengambil peran utama. Pembentukan kedisiplinan juga menjadi aspek yang tidak dipenuhi oleh AI. Mulai dari ketetapan waktu, tanggung jawab, kehadiran di kelas, menyelesaikan tugas sesuai arahan pendidik serta aturan-aturan sekolah yang membentuk hal positif peserta didik. AI bisa saja membantu peserta didik belajar dengan fleksibel, namun kebiasaan ini memerlukan lingkungan terstruktur seperti sekolah.

AI sebagai pendamping sekolah dalam dunia pendidikan merupakan sebuah simponi yang harmonis. Keduanya jelas memiliki kelebihan masing-masing. Sekolah dapat memanfaatkan AI sebagai alat dalam memberikan pembelajaran yang lebih mendalam, menarik, dan relevan. AI bisa melengkapi peran sekolah dalam pengetahuan, tetapi nilai-nilai dasar, interaksi sosial, dan pengembangan karakter tetap membutuhkan lingkungan sekolah yang nyata.

Wajah pendidikan yang kian hari kian memburuk dengan banyaknya pemberitaan negatif memang menampar wajah pendidikan. Hal itu adalah PR besar bagi bangsa ini agar memperbaiki sistem yang tentunya mengedepankan keadilan. Bukan hanya untuk anak yang sedang belajar tetapi juga untuk guru yang mengajar.(*)

Berita Terbaru

Video Terbaru

Banner tidak ditemukan.

Berita Lainnya

Ruang Digital, Ruang Dakwah: Mahasiswa KPI Uji Gagasan Lewat Proposal Skripsi Bertema Media Sosial

Ruang Digital, Ruang Dakwah: Mahasiswa KPI Uji Gagasan Lewat Proposal Skripsi Bertema Media Sosial

BURU- Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), UNIQBU menggelar ujian proposal skripsi pada Rabu, 14 Mei 2025 bertempat di

Manuver Politik Penyebab Mahkamah Konstitusi Makin Tidak Dipercaya Publik

Manuver Politik Penyebab Mahkamah Konstitusi Makin Tidak Dipercaya Publik

Diskursus tentang pemilu dengan sistem proporsional terbuka dan tertutup belakangan santer terdengar di berbagai media. Hal itu tidak terlepas dari

OPINI: Bahasa & Kuasa

OPINI: Bahasa & Kuasa

Penulis: Soedarsono M, S.Pd., M.Pd. ( Dosen Pendidikan Bhs. Indonesia, Univ. Iqra Buru) OPINI- Bahasa adalah alat komunikasi yang mempunyai

OPINI: Reproduksi Kesadaran Politik

OPINI: Reproduksi Kesadaran Politik

PENULIS: S. Hamzah, S.Pd., M.Si.  OPINI- Riak-riak Pilkada, dengan sangat sederhana kita dapat menafsirkan politik itu adalah media untuk memperoleh

Sejarah Ke-LDK-an di Maluku

Sejarah Ke-LDK-an di Maluku

Penulis: Hasanudin Tinggapy, M.Pd.I. (Dosen Prodi PAI, Uniqbu, eks offesio Pembina LDK At-Taqwa Uniqbu) OPINI- Dengan Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala,

Sumpah Pemuda dan Pragmatisme Generasi Z Tahun 2024

Sumpah Pemuda dan Pragmatisme Generasi Z Tahun 2024

Penulis: Ahmad Jais, S.Pd., Gr. (Guru SMA Negeri 1 Modayag, Sulawesi Utara) OPINI- Tanggal 28 Oktober 1928 menandai peristiwa bersejarah

Ujian Skripsi FAI Univ. Iqra Buru Masih Digelar, (Terdapat 3 Kloter Prodi KPI)

Ujian Skripsi FAI Univ. Iqra Buru Masih Digelar, (Terdapat 3 Kloter Prodi KPI)

Penulis: Abd. Rasyid Rumata, S.Sos.I., M Sos.I. (Dosen Prodi KPI, Univ. Iqra Buru) OPINI- Tertulis pada cover atau halaman judul skripsi "diajukan

Mahasiswa dan Kemerdekaan: Pilar Penting untuk Masa Depan Bangsa

Mahasiswa dan Kemerdekaan: Pilar Penting untuk Masa Depan Bangsa

Penulis: M. Rusdi, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pend. Sosiologi, Univ. Iqra Buru) OPINI- Mahasiswa selalu dianggap sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Mereka

BEM FKIP Universitas Iqra Buru, Gelar Musyawarah Besar ke-XIII

BEM FKIP Universitas Iqra Buru, Gelar Musyawarah Besar ke-XIII

BURU- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Iqra Buru Kabupaten Buru menggelar kegiatan Musyawarah Besar

OPINI: Mensakralkan Pancasila Tanpa Batas Waktu

OPINI: Mensakralkan Pancasila Tanpa Batas Waktu

Penulis: Abd. Rasyid Rumata, Sos.I., M.Sos.I. (Dosen Prodi KPI, Univ. Iqra Buru) OPINI- Tumbuh dari masa kecil hingga berusia di