Media Kapas Iqra

Hari Kesaktian Pancasila di Tengah Arus Digital dan Globalisasi

Redaksi: kapasiqra.com | October 1, 2024

Penulis: M. Rusdi, M.Pd. (Dosen Prodi KPI, Univ. Iqra Buru)

OPINI- Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober selalu mengingatkan kita pada kekuatan Pancasila sebagai benteng ideologi bangsa. Namun, dalam konteks hari ini, peringatan tersebut tak hanya soal mengingat sejarah masa lalu, tetapi juga soal mempertanyakan bagaimana kesaktian Pancasila dihadapkan pada tantangan globalisasi dan disrupsi digital yang terus berkembang.

Saat ini, dunia mengalami transformasi besar-besaran akibat revolusi digital dan globalisasi. Di satu sisi, teknologi dan konektivitas global memberikan banyak manfaat seperti kemudahan akses informasi, interaksi lintas budaya, dan percepatan inovasi. Di sisi lain, arus ini juga membawa risiko besar terhadap nilai-nilai kebangsaan kita. Pengaruh budaya luar, individualisme, radikalisme, dan disinformasi yang merajalela di media sosial menjadi tantangan nyata bagi relevansi Pancasila di era modern ini.

Pancasila, yang lahir dari semangat persatuan dalam keberagaman, kini diuji oleh polarisasi yang kian tajam di masyarakat. Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang interaksi terbuka, justru sering kali dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah yang menggerus nilai-nilai persatuan. Sila ketiga, “Persatuan Indonesia,” semakin relevan ketika kita melihat betapa rapuhnya persatuan di tengah masyarakat yang terpecah oleh polarisasi politik, agama, dan sosial.

Di tengah semua ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya pada bagaimana mempertahankan Pancasila, tetapi bagaimana membuatnya tetap relevan dan hidup di hati masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan menekankan pentingnya pendidikan Pancasila yang kontekstual, yang tidak hanya mengajarkan sejarah tetapi juga aplikasinya di dunia modern. Pendidikan moral dan karakter berbasis Pancasila harus mengajarkan kepada generasi muda bagaimana menghadapi disrupsi digital dengan tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kebangsaan.

Kita juga perlu melihat bahwa globalisasi tidak harus dilihat sebagai ancaman semata. Pancasila, dengan prinsip-prinsipnya yang inklusif, mampu menjadi filter budaya yang membantu kita menyaring nilai-nilai positif dari luar sembari mempertahankan identitas nasional. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” misalnya, menuntun kita untuk tetap menghormati perbedaan keyakinan dalam ruang publik yang semakin plural dan global.

Demikian juga dengan Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” yang harus tetap menjadi pedoman dalam mengurangi ketimpangan yang sering kali diperparah oleh ekonomi global yang tidak merata.

Namun, menjaga kesaktian Pancasila di era ini tidak bisa hanya dibebankan pada negara atau institusi pendidikan. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Gotong royong, misalnya, bisa diwujudkan dalam bentuk solidaritas sosial di tengah pandemi atau bencana alam, sementara toleransi dan saling menghargai bisa diterapkan dalam interaksi kita di media sosial.

Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa identitas bangsa ini tidak boleh tenggelam. Nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Pancasila harus terus diperkuat, diterjemahkan dalam konteks kekinian, dan diajarkan kepada generasi mendatang.

Inilah esensi dari kesaktian Pancasila: bahwa ideologi ini tidak hanya bertahan dari ancaman masa lalu, tetapi juga relevan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Dalam konteks ini, Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya soal memperingati sejarah atau mengenang masa-masa sulit bangsa. Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk kembali meneguhkan komitmen kita terhadap nilai-nilai yang membangun Indonesia sebagai bangsa yang kuat, adil, dan sejahtera, sekaligus menghadapinya dengan kesadaran bahwa tantangan modern memerlukan adaptasi, tetapi tidak mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita junjung tinggi. Pancasila adalah cermin kesatuan dalam keberagaman, dan selama kita menjadikannya pedoman hidup, Indonesia akan tetap kokoh menghadapi segala perubahan.(*)

Berita Terbaru

Video Terbaru

Banner tidak ditemukan.

Berita Lainnya

FAI Universitas Iqra Buru Gelar Yudisium, Puluhan Mahasiswa Resmi Menyandang Gelar Sarjana

FAI Universitas Iqra Buru Gelar Yudisium, Puluhan Mahasiswa Resmi Menyandang Gelar Sarjana

PENDIDIKAN- FAI Univ. Iqra Buru menggelar acara yudisium bagi puluhan mahasiswa yang telah menyelesaikan studi mereka pada hari ini, Sabtu (21/09/2024),

Pembukaan Ujian Proposal Mahasiswa Prodi PAI UNIQBU 2024

Pembukaan Ujian Proposal Mahasiswa Prodi PAI UNIQBU 2024

BURU- Program Studi PAI FAI Univ. Iqra Buru, sedang melangsungkan kegiatan pembukaan ujian proposal penelitian di ruang rapat Univ. Iqra

Manuver Politik Penyebab Mahkamah Konstitusi Makin Tidak Dipercaya Publik

Manuver Politik Penyebab Mahkamah Konstitusi Makin Tidak Dipercaya Publik

Diskursus tentang pemilu dengan sistem proporsional terbuka dan tertutup belakangan santer terdengar di berbagai media. Hal itu tidak terlepas dari

KTU FAI UNIQBU Menyebar Undangan Rapat Secara Tiba-tiba, Ada Apa?

KTU FAI UNIQBU Menyebar Undangan Rapat Secara Tiba-tiba, Ada Apa?

BURU- Tepat pada hari rabu malam pukul 19.00, tiba-tiba anggota group whatsApp FAI Uniqbu di hebohkan dengan adanya foto undangan

OPINI; Dimensi Sosiologis Gerakan Dakwah

OPINI; Dimensi Sosiologis Gerakan Dakwah

Oleh: M. Rusdi, M.Pd. (Dosen Pendidikan Sosiologi, Univ. Iqra Buru) OPINI- Islam Indonesia seperti yang kita lihat saat ini, meskipun

Sejak Lama Aku Jatuh Cinta

Sejak Lama Aku Jatuh Cinta

Penulis: Abd. Rasyid Rumata, S.Sos.I., M.Sos.I. (Dosen Prodi KPI, Uniqbu) OPINI- Sudah lebih dari ribuan tahun hanya namamu yang kami patrikan.

Satgas Uniqbu, Berikan Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Kilat

Satgas Uniqbu, Berikan Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Kilat

PENDIDIKAN- Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan perlindungan bagi generasi muda, satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Kekerasan Seksual mengadakan sesi edukasi khusus

OPINI; Kewaspadaan di Musim Hujan

OPINI; Kewaspadaan di Musim Hujan

Penulis: Wa Narni (Mahasiswa Prodi KPI Univ. Iqra Buru) OPINI- Musim hujan seringkali membawa beragam perubahan cuaca yang ekstrim,mulai dari

Sejarah Ke-LDK-an di Maluku

Sejarah Ke-LDK-an di Maluku

Penulis: Hasanudin Tinggapy, M.Pd.I. (Dosen Prodi PAI, Uniqbu, eks offesio Pembina LDK At-Taqwa Uniqbu) OPINI- Dengan Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala,

Penarikan dan Perpisahan Mahasiswa PKL Prodi KPI Universitas Iqra Buru di KEMENAG Buru

Penarikan dan Perpisahan Mahasiswa PKL Prodi KPI Universitas Iqra Buru di KEMENAG Buru

Buru- Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Iqra Buru (UNIQBU), secara resmi menarik 9 orang